BATAM (BR) – Ledakan dahsyat di kapal tanker MT Federal II milik PT ASL Shipyard Indonesia, Batu Aji, yang menewaskan 13 pekerja dan melukai 18 lainnya, mengguncang dunia industri galangan kapal di Batam. Tragedi yang disebut sebagai insiden industri terbesar tahun 2025 itu kini menjadi perhatian serius DPRD Kota Batam.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di ruang rapat utama DPRD Batam, Selasa (28/10/2025), para wakil rakyat meminta pihak manajemen PT ASL agar terbuka dan bertanggung jawab mengungkap penyebab pasti peristiwa memilukan tersebut. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua I DPRD Batam, Aweng Kurniawan, bersama Wakil Ketua II, Budi Mardianto, serta dihadiri perwakilan lintas komisi dan dinas ketenagakerjaan dari Provinsi Kepri dan Kota Batam.
“Ini bukan sekadar insiden kerja biasa. Ini tragedi besar yang merenggut nyawa belasan pekerja kita. DPRD tidak akan diam. Kita ingin semua fakta diungkap secara transparan,” tegas Aweng Kurniawan membuka rapat.
Menurut Aweng, langkah DPRD tidak berhenti pada mencari pihak yang bersalah, tetapi juga memastikan hak-hak korban dan keluarganya terpenuhi, serta mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kerja di kawasan industri galangan kapal.
“Kita bicara tentang tanggung jawab kemanusiaan. Pertama, pastikan seluruh korban dan keluarga mendapatkan haknya. Kedua, perkuat sistem keselamatan kerja agar tidak ada lagi korban berikutnya,” ujarnya.
Aweng menambahkan, ribuan pekerja di Batam menggantungkan hidupnya di sektor industri perkapalan. Karena itu, penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) harus menjadi prinsip utama, bukan sekadar formalitas di atas kertas.
“Kalau pengawasan lemah dan sistem tidak diperbaiki, potensi tragedi serupa sangat mungkin terulang. DPRD akan mendorong audit menyeluruh dan peningkatan standar keselamatan di semua galangan,” kata Aweng menegaskan.
Sementara itu, General Manager PT ASL Shipyard Indonesia, Audri Kosasih, memaparkan kronologi singkat kejadian. Menurutnya, ledakan terjadi pada Rabu (15/10/2025) sekitar pukul 04.00 WIB, saat tim subkontraktor melakukan pekerjaan perbaikan di dalam tangki kapal. Api diduga berasal dari sisa gas atau minyak yang terperangkap di ruang tertutup hingga memicu ledakan besar.
“Proses evakuasi berlangsung cukup lama karena posisi korban berada di ruang sempit kapal. Semua korban segera dibawa ke beberapa rumah sakit, termasuk RS Bhayangkara, RS Aini, RS Graha Hermin, dan RSUD,” jelas Audri.
Ia menegaskan, seluruh biaya pemakaman, santunan keluarga, serta kebutuhan akomodasi ditanggung penuh oleh perusahaan. Namun, penyebab pasti insiden masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari kepolisian dan tim investigasi internal.
DPRD Kota Batam berencana membentuk tim pemantau khusus untuk memastikan proses investigasi berjalan transparan. Selain itu, lembaga legislatif tersebut juga mendorong adanya regulasi baru yang memperketat pengawasan dan standar keselamatan kerja di industri galangan kapal.
“Keselamatan pekerja harus menjadi prioritas utama. Satu nyawa pun terlalu berharga untuk hilang hanya karena kelalaian,” tutup Aweng Kurniawan.(*)

