Di tengah teriknya siang Kota Batam, aroma teh manis menyeruak dari sebuah gerai kecil berwarna merah cerah di kawasan Tunas, Batam Center. Spanduknya sederhana namun mencuri perhatian: “Teh Obeng Ahh – Rasa Dikita Emang Beda!” Dari tempat itulah, kisah perjuangan seorang perempuan muda bernama Wahidah dimulai, sebuah kisah tentang ketekunan, kreativitas, dan mimpi besar di tengah keterbatasan.
Wahidah bukan berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh di lingkungan sederhana perantau dari Padang, Sumatera Barat, tempat sebagian besar warga hidup dari usaha kecil dan perdagangan harian. Sejak muda, ia terbiasa membantu orang tuanya berjualan di pasar. Dari sanalah ia belajar arti kerja keras dan pentingnya melayani pembeli dengan hati.
Tahun 2023 menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah pandemi usai, banyak peluang baru muncul, tapi juga persaingan yang kian ketat. Wahidah yang sempat kerja sebagai kasir di salah satu resort atau hotel di Batam. Bersama saudaranya, ia mengumpulkan sisa tabungan dan memutuskan membuka usaha minuman sederhana, teh obeng sebutan khas masyarakat Batam untuk teh manis dingin yang disajikan dengan es batu.
Modalnya tak seberapa, bahkan tak sampai Rp10 juta. Ia membeli termos besar, beberapa pak teh celup, gula, es, dan cup plastik. Di atas gerobak di tepi jalan kawasan Tunas, Batam Center, ia mulai menjual teh buatannya. Tidak ada branding mewah, tapi kemasannya kemasan kekinian dan tertulis “Teh Obeng Ahh..!”
Awalnya, pembeli datang satu dua orang. Namun Wahidah tak menyerah. Ia mengandalkan rasa khas buatannya, manisnya pas, aromanya kuat, dan disajikan dengan senyum ramah. Ia tahu, di tengah panasnya cuaca Batam, segelas teh dingin bisa jadi penawar lelah yang paling dicari. Lama-kelamaan, pelanggan mulai mengenalnya. Mereka tak sekadar membeli teh, tapi juga menikmati obrolan ringan dengannya.
“Orang datang bukan cuma karena haus, tapi karena mereka merasa disapa,” ujar Wahidah suatu siang sambil menuang teh ke dalam cup.
Pelan tapi pasti, usahanya tumbuh. Dari satu gerobak di pinggir jalan, kini ia sudah punya geronak kecil dengan cat merah cerah dan logo khas:m, gambar gelas teh dengan tulisan “Teh Obeng Ahh.” Nama itu ia pilih karena ingin mengekspresikan rasa segar yang membuat orang spontan berkata “Ahh!” setelah meneguknya.
Harga jual tetap terjangkau Rp3.000 untuk ukuran kecil, Rp5.000 untuk besar. Namun omzet hariannya mulai meningkat. Ia tak lagi bekerja sendirian, kini setiap stand telah memperkejakan 1 orang karyawan ikut membantu. Bersama mereka, Wahidah membangun sistem kerja sederhana tapi rapi. Ada jadwal jaga, catatan bahan baku, dan daftar pelanggan tetap.
Setahun kemudian, Teh Obeng Ahh mulai dikenal luas. Ia membuka beberapa cabang kecil di Tiban, Batu Aji, dan Batam Center. Di setiap lokasi, konsepnya sama, gerai sederhana, warna merah mencolok, dan pelayanan yang akrab. “Saya ingin pelanggan merasa seperti mampir ke rumah teman, bukan ke warung,” katanya.
Meski usahanya terus berkembang, Wahidah mengakui bahwa semuanya dilakukan dengan modal nekat dan belajar otodidak. Ia belum pernah mengikuti pelatihan bisnis atau mendapat pendampingan dari lembaga mana pun. “Saya dengar banyak pelatihan UMKM, tapi belum pernah sempat ikut. Kadang waktunya bentrok dengan jam jualan,” ujarnya polos.
Namun, tanpa sadar, perjalanan Wahidah sejalan dengan arah kebijakan besar yang kini tengah digalakkan oleh Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau (BI Kepri) yakni memperkuat sektor UMKM sebagai penggerak utama ekonomi daerah.
BI Kepri gencar mendorong transformasi digital di kalangan pelaku usaha kecil, memperluas akses pembayaran nontunai seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), dan memberi pelatihan manajemen keuangan bagi para pedagang.
Wahidah mengaku sering melihat sosialisasi QRIS di media sosial dan beberapa spanduk BI Kepri di area Batam Center. Meski belum bergabung, ia tertarik untuk belajar. “Saya ingin juga pakai QRIS biar pelanggan bisa bayar tanpa uang tunai. Sekarang banyak anak muda yang lebih suka pakai ponsel,” katanya.
Pernyataan sederhana itu menunjukkan bahwa semangat perubahan sudah ada. Yang dibutuhkan hanyalah jembatan pendampingan, edukasi, dan akses agar pelaku usaha seperti Wahidah dapat naik kelas.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Ronny Widijarto dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya dengan pelatihan sesaat. Harus ada pendampingan berkelanjutan, agar pelaku kecil bisa bertransformasi menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing. Ia menyebut bahwa hingga pertengahan 2024, transaksi QRIS di Kepri telah menembus Rp2,47 triliun, dan sebagian besar berasal dari aktivitas pelaku UMKM.
Data tersebut menggambarkan potensi luar biasa. Namun masih banyak pelaku kecil seperti Wahidah yang belum tersentuh langsung oleh kebijakan itu bukan karena enggan, tetapi karena keterbatasan waktu, akses informasi, dan kemampuan digital.
Inilah tantangan sekaligus peluang. Ketika BI Kepri terus memperluas jangkauan program edukasi dan literasi keuangan, pelaku-pelaku kecil yang bekerja dari pinggir jalan seperti Wahidah berpotensi menjadi bagian dari gerakan ekonomi digital daerah.
Kini, setiap hari gerai Teh Obeng Ahh ramai oleh pelanggan. Di jam-jam sibuk, antrean bisa mengular. Ia tidak hanya menjual teh, tetapi juga berbagai variasi minuman seperti teh hijau es. Dari hasil penjualan harian, Wahidah mulai bisa menabung dan memperbaiki ekonomi keluarganya. Ia pun bermimpi ingin memiliki gerai permanen suatu hari nanti, lengkap dengan mesin es dan sistem kasir digital.
“Kalau usaha ini terus maju, saya mau ajak lebih banyak orang bekerja di sini. Saya tahu rasanya cari kerja itu sulit,” tuturnya pelan.
Cerita Wahidah adalah potret nyata bagaimana sektor UMKM menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Ia tidak pernah mendapat bantuan besar, tidak pula memiliki koneksi kuat. Namun dengan tekad dan ketekunan, ia mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi sekitar, dan menjadi inspirasi bagi banyak anak muda.
Kisah-kisah seperti ini adalah bukti bahwa kekuatan ekonomi tidak selalu lahir dari korporasi besar. Kalau UMKM diberi ruang tumbuh, maka ketahanan ekonomi daerah akan kuat. Mereka inilah yang menjaga roda ekonomi tetap berputar bahkan di masa sulit.
Kini, aroma teh manis dari gerai kecil milik Wahidah bukan sekadar tanda usaha sederhana. Ia menjadi simbol kebangkitan ekonomi rakyat Batam sebuah bukti bahwa mimpi besar bisa dimulai dari segelas teh dingin di pinggir jalan.
Dan seperti kesegaran “Teh Obeng Ahh” yang menyejukkan di tengah panas siang, semangat pelaku UMKM seperti Wahidah menegaskan satu hal penting: Ekonomi kuat selalu berawal dari rakyat yang berdaya.(*)

