Friday, October 30, 2026
HomePendidikanBuka Akses Kerja Global bagi Mahasiswa,Menteri P2MI Resmikan Migrant Center di BTP...

Buka Akses Kerja Global bagi Mahasiswa,Menteri P2MI Resmikan Migrant Center di BTP Batam

BATAM (BR) – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin meresmikan Migrant Center di Batam Tourism Polytechnic, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, Senin (8/6/2026) malam.

Peresmian pusat layanan pekerja migran tersebut menjadi langkah strategis dalam membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memasuki pasar kerja internasional secara terarah, profesional, dan terlindungi.

Dalam kunjungannya, Mukhtarudin mengaku terkesan dengan fasilitas pendidikan dan praktik yang dimiliki BTP. Ia meninjau sejumlah laboratorium dan sarana pembelajaran mulai dari bidang kuliner, barista, tata hidangan hingga fasilitas penunjang lainnya yang dinilai telah memenuhi standar kebutuhan industri global.

“Saya cukup terkejut karena fasilitas yang ada jauh melampaui ekspektasi saya. BTP memiliki sarana praktik yang sangat baik. Bahkan saya melihat ada mahasiswa yang sedang menjalani magang di Hong Kong dan beberapa negara lainnya, serta ada yang melanjutkan karier bekerja di luar negeri,” ujarnya.

Menurut Mukhtarudin, pemerintah saat ini tengah fokus meningkatkan kualitas pekerja migran Indonesia sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Upaya tersebut tidak hanya menitikberatkan pada aspek perlindungan, tetapi juga peningkatan kompetensi agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing di pasar internasional.

Melalui Migrant Center, mahasiswa akan memperoleh pendampingan menyeluruh mulai dari peningkatan keterampilan teknis, penguasaan bahasa asing, pembentukan mental kerja, pemeriksaan kesehatan hingga proses penempatan kerja ke luar negeri.

“Kami ingin membangun ekosistem dari hulu hingga hilir. Mahasiswa tidak hanya lulus dengan ijazah, tetapi juga memiliki jalur yang jelas menuju dunia kerja internasional,” katanya.

Ia menilai BTP memiliki potensi besar dalam mencetak tenaga kerja global karena didukung program studi yang relevan dengan kebutuhan industri internasional, seperti Manajemen Kuliner, Manajemen Tata Hidangan, Manajemen Divisi Kamar, hingga Magister Terapan Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata.

Mukhtarudin menjelaskan, kebutuhan tenaga kerja terampil di berbagai negara saat ini terus meningkat, khususnya di sektor hospitality, kesehatan, caregiver, manufaktur hingga jasa lainnya. Negara seperti Jepang, Hong Kong, Australia, Jerman, Turki dan sejumlah negara Eropa disebut masih membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Kuncinya adalah kesiapan kompetensi, keterampilan, dan kemampuan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional,” ujarnya.

Sebagai bagian dari program percepatan pemerintah, Kementerian P2MI menargetkan sedikitnya 500 calon tenaga kerja dapat terserap ke pasar kerja luar negeri sepanjang tahun ini.

Selain itu, Mukhtarudin juga mendorong BTP untuk mengembangkan layanan penempatan pekerja migran secara terpadu dengan membentuk Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) di lingkungan kampus.

Menurutnya, konsep one stop service akan memudahkan mahasiswa mendapatkan pelatihan, sertifikasi, pembekalan hingga akses penempatan kerja dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Dalam kesempatan tersebut, Mukhtarudin turut memaparkan potensi besar pasar kerja luar negeri. Berdasarkan data Sistem Informasi Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI) per 4 Juni 2026, tersedia 308.779 lowongan kerja di luar negeri dan sebanyak 233.401 posisi masih belum terisi.

Sektor yang paling banyak membutuhkan tenaga kerja antara lain pekerjaan domestik, kesehatan, manufaktur, hospitality, konstruksi, pertanian, perikanan, peternakan serta perkebunan. Sementara negara tujuan utama meliputi Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Bulgaria, Brunei Darussalam dan Slovakia.

Di sisi lain, remitansi pekerja migran Indonesia pada tahun 2025 tercatat mencapai Rp288 triliun. Menurut Mukhtarudin, angka tersebut menunjukkan bahwa pekerja migran tidak hanya berkontribusi bagi keluarga, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah dan nasional.

“Remitansi memberikan dampak ekonomi yang besar. Selain meningkatkan kesejahteraan keluarga, juga mampu menggerakkan ekonomi lokal dan menciptakan peluang usaha baru di daerah asal pekerja migran,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Vitka BTP, Asman Abnur menilai kehadiran Migrant Center menjadi momentum penting bagi penguatan daya saing lulusan BTP di tingkat internasional.

Menurut mantan Menteri PANRB tersebut, Batam memiliki keunggulan strategis karena berada di kawasan yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sehingga memiliki akses langsung ke pasar tenaga kerja global.

“Batam sejak awal memang dibangun dengan orientasi internasional. Karena itu, dunia pendidikan harus mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global,” ujar Asman.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa saat ini tidak cukup hanya dibekali ijazah, melainkan juga pengalaman dan kompetensi internasional agar mampu menunjukkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di mata dunia.

RELATED ARTICLES
spot_img

BATAM