LINGGA (BR) – Perjalanan kami kembali dimulai. Dari hotel di Kampung Cina, Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, rombongan jurnalis yang mengikuti rangkaian Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bergerak menuju destinasi yang berada jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Tujuannya kami adalah Pantai Dungun, yang berada di Kampung Dungun, Desa Teluk, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga.
Perjalanan menuju pantai yang menyimpan pesona alam itu bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh hamparan pohon sagu yang tumbuh menghijau di kiri dan kanan jalan.
Sesekali, terlihat perkampungan masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan sederhana di pedalaman Lingga.
Jalan yang kami lalui pada awal perjalanan cukup mulus. Roda kendaraan melaju tanpa hambatan berarti. Suasana perjalanan pun terasa nyaman. Hingga akhirnya, rombongan memasuki kawasan Kampung Dungun.

Aspal yang sebelumnya menemani perjalanan perlahan kami tiba-tiba menghilang. Jalan menuju Pantai Dungun berubah menjadi jalan berbatu sepanjang kurang lebih dua kilometer.
Guncangan kendaraan mulai terasa. Perjalanan yang sebelumnya lancar menjadi sedikit lebih lambat.
Di tengah keindahan alam yang begitu menjanjikan, kondisi akses jalan tersebut menjadi satu hal yang cukup disayangkan.
Sebab, jalan merupakan salah satu pintu pertama yang menentukan kesan wisatawan ketika mengunjungi sebuah destinasi.
Bagi masyarakat lokal mungkin kondisi tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian. Namun bagi wisatawan, terutama mereka yang datang dari luar daerah, perjalanan di atas jalan berbatu tentu bisa mengurangi kenyamanan.
Apalagi jika Pantai Dungun ingin dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Lingga.
Lelah Terbayar di Bibir Pantai
Namun, semua rasa lelah itu seakan terbayar ketika kendaraan akhirnya tiba di Pantai Dungun.
Di hadapan mata kami, terbentang garis pantai yang panjangnya kurang lebih tiga kilometer.
Hamparan pasir dan laut berpadu dengan langit yang luas. Di kejauhan, terlihat kelong-kelong milik masyarakat serta nelayan yang tengah melaut.
Pemandangan sederhana itu justru menghadirkan ketenangan tersendiri.
Tidak ada suara bising kendaraan. Tidak ada keramaian kota. Hanya suara angin laut, deburan ombak, serta aktivitas nelayan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir.
Pantai Dungun seperti menyimpan sebuah potongan kecil dari wajah Lingga yang masih alami.
Bagi siapa pun yang baru pertama kali datang, sulit untuk tidak mengagumi panorama yang disuguhkan.
Rasa lelah selama dua jam perjalanan, ditambah guncangan jalan berbatu sepanjang dua kilometer, seolah hilang begitu saja.
Tetapi di balik keindahan itu, ada satu persoalan yang langsung terlihat. Pantai Dungun belum dilengkapi fasilitas wisata yang memadai.
Tidak terlihat toilet umum yang layak, pondok atau gazebo untuk tempat beristirahat, warung makan, maupun fasilitas pendukung lainnya yang biasanya menjadi kebutuhan dasar wisatawan.
Padahal, destinasi wisata tidak hanya membutuhkan keindahan alam. Akses yang nyaman, fasilitas dasar, kebersihan, keamanan, serta sarana pendukung menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang menyenangkan.
Rumah Bagi Penyu Bertelur
Ada alasan lain mengapa Pantai Dungun memiliki potensi yang tidak biasa. Pantai ini juga menjadi salah satu kawasan tempat penyu bertelur.
Pada musim tertentu, khususnya sekitar Mei yang dikenal sebagai salah satu periode musim penyu bertelur, kawasan pantai menjadi ruang penting bagi satwa laut tersebut untuk melanjutkan siklus hidupnya.
Potensi ini tentu bukan sekadar daya tarik wisata. Jika dikelola dengan baik, keberadaan penyu dapat menjadi kekuatan wisata berbasis konservasi.
Wisatawan bukan hanya datang untuk menikmati pantai, tetapi juga bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai kehidupan penyu serta pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Konsep seperti ini tentu membutuhkan pengelolaan yang hati-hati. Pembangunan fasilitas wisata semestinya tidak menghilangkan karakter alami pantai dan tidak mengganggu habitat penyu.
Justru, pembangunan harus berjalan beriringan dengan upaya konservasi.
Menunggu Sentuhan Pemerintah
Pantai Dungun seakan sedang menunggu sentuhan. Bukan sentuhan untuk mengubahnya menjadi kawasan wisata yang penuh bangunan dan kehilangan keasliannya.
Tetapi sentuhan yang membuat wisatawan bisa menikmati keindahannya dengan lebih nyaman.
Pemerintah Kabupaten Lingga dapat melihat potensi tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan wisata alam sekaligus wisata konservasi.
Perbaikan akses jalan menjadi salah satu kebutuhan paling mendasar. Setelah itu, fasilitas seperti toilet umum, tempat berteduh, tempat makan, tempat sampah, area parkir, hingga papan informasi mengenai penyu dan ekosistem pantai dapat dipertimbangkan secara bertahap.
Dengan pengelolaan yang tepat, Pantai Dungun bukan tidak mungkin menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sebab, yang dimiliki Pantai Dungun saat ini sebenarnya sudah menjadi modal besar: alam yang indah, garis pantai yang panjang, kehidupan nelayan yang masih terasa, serta keberadaan penyu yang menjadikannya memiliki nilai ekologis.
Tinggal bagaimana potensi itu dirawat dan dikembangkan. Perjalanan menuju Pantai Dungun memang masih harus melewati jalan berbatu.
Tetapi mungkin, justru di balik jalan itulah sebuah pesan sedang disampaikan: bahwa surga-surga kecil di daerah pesisir seperti Dungun membutuhkan perhatian agar tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga layak untuk dikunjungi dan dinikmati.

