BATAM (BR) – Di tengah kepungan pakaian buatan pabrik yang membanjiri pasar modis modern, dentakan ritmis alat tenun kayu masih terdengar konstan dari balik dinding Rumah Tenun Lingga, Kepulauan Riau. Di bangunan bersahaja inilah, helai demi helai benang ditenun dengan tingkat kesabaran tinggi, merangkai kembali pecahan warisan budaya Melayu yang sempat redup dihantam zaman.
Di balik geliat pelestarian warisan leluhur tersebut, ada sosok perempuan gigih yang tak kenal lelah mengawal setiap prosesnya, Isnawati, Ketua Rumah Tenun Lingga. Dengan senyum hangat, Isnawati menunjukkan barisan karya terbaik para penenun lokal—lembaran kain yang tak sekadar memanjakan mata, tetapi juga sarat nilai sejarah dan filosofi Melayu.
Sambil membentangkan lembaran kain tenun yang tampak anggun lewat kilau benang emas dan paduan warna elegan, Isnawati mulai memaparkan ragam motif khas yang lahir dari jemari pengrajin di Rumah Tenun Lingga.
“Kain-kain ini memiliki ragam motif yang memikat, seperti motif Sulur Daun, Tampuk Manggis, hingga motif Bunga Melati,” ujar Isnawati sembari jemarinya dengan lembut menunjuk lekukan detail di atas permukaan kain.
Dari sekian banyak ragam motif, salah satu karya unggulan yang kini tengah gencar dikembangkan adalah Kain Tenun Telepuk. Berbeda dari tenun biasa atau songket pada umumnya, Tenun Telepuk menyimpan keunikan tersendiri, baik dari segi visual maupun proses penggarapannya.
Isnawati menjelaskan bahwa nama Telepuk sebenarnya merujuk langsung pada teknik pembuatannya. Teknik ini mengandalkan proses pencerapan atau pengecapan (tepuk) motif yang sangat rapat dan bertumpuk di atas lembaran kain. Karena kerapatan motifnya yang presisi, teknik ini menuntut tingkat ketelitian yang sangat ekstra dari seorang penenun.
Guna menghasilkan satu lembar Kain Tenun Telepuk berkualitas tinggi, seorang pengrajin harus mencap motif satu per satu secara manual. Angkanya tidak main-main, mencapai sekitar 500 kali cap untuk satu helai kain. Dedikasi dan presisi inilah yang membuat proses pembuatannya memakan waktu cukup panjang, yakni rata-rata dua minggu untuk menyelesaikan satu set kain beserta kelengkapannya.
Jalan yang ditempuh Rumah Tenun Lingga untuk sampai di titik sekarang sejatinya tidak selalu mulus. Sebelum dikenal luas dan kebanjiran pesanan dari berbagai daerah, para pengrajin di sini harus bertarung dengan keterbatasan sarana produksi. Dahulu, alat yang mereka gunakan sangat terbatas, hanya mengandalkan sisa-sisa alat pelatihan terdahulu yang kondisinya sudah tidak optimal untuk berproduksi.
Arah angin mulai berembus positif ketika Bank Indonesia (BI) hadir memberikan dukungan nyata melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) bertajuk Dedikasi untuk Negeri. Melalui program ini, Bank Indonesia menyerahkan bantuan berupa 5 unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) lengkap dengan seluruh peralatan pendukungnya.
“Sebelum ada bantuan dari Bank Indonesia, kami bahkan belum memiliki ATBM sendiri yang memadai. Alat lama bekas pelatihan dulu sudah tidak dipakai lagi. Kehadiran 5 unit ATBM dari BI ini benar-benar menjadi titik balik bagi kami untuk dapat berproduksi secara konsisten,” kenang Isnawati penuh rasa syukur.
Sejak alat-alat anyar tersebut mendarat sekitar tiga tahun lalu, roda produktivitas Rumah Tenun Lingga berputar lebih cepat. Sarana yang memadai berhasil menyuntikkan semangat baru bagi para pengrajin untuk terus menetaskan karya-karya terbaik.
Kini, keaslian dan mutu Tenun Lingga tak cuma jadi kebanggaan masyarakat lokal. Produk-produk garapan Rumah Tenun Lingga sukses menembus pasar internasional, terutama di negara tetangga, Malaysia.
“Untuk kain jenis songket, pangsa pasar terbesar kami justru datang dari Malaysia. Banyak wisatawan dan tamu dari Malaysia yang berkunjung ke Lingga lalu memesan kain tenun kami. Permintaan dari sana sangat tinggi, bahkan sampai akhir tahun ini saja pesanan kain tenun dari Malaysia masih terus kami kerjakan dan belum selesai semua,” beber Isnawati.
Selain memenuhi dahaga pasar Malaysia, inovasi mutakhir seperti Tenun Telepuk juga disiapkan untuk tampil di ajang-ajang bergengsi tingkat nasional. Saat ini, para penenun sedang dikejar target menyelesaikan puluhan lembar kain tenun yang diproyeksikan khusus untuk pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta.
“Untuk persiapan KKI di Jakarta nanti, kami sedang memproduksi sekitar 20 lembar kain tenun bernuansa baru yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan,” tambahnya.
Urusan harga, karya seni tekstil nan rumit ini dibanderol bervariasi—tergantung pada tingkat kesulitan motif serta jenis benang yang dipakai. Kain tenun Lingga dipasarkan mulai dari harga terjangkau sekitar Rp2.800.000 hingga Rp3.800.000. Sementara itu, untuk kain kelas eksklusif yang dilengkapi hiasan tumpal rumit di bagian kepala dan kaki kain, harganya bisa menembus angka Rp5.000.000 per lembar.
Kendati nilai ekonomisnya tergolong tinggi dan keran pasar internasional sudah terbuka lebar, Rumah Tenun Lingga masih harus mengelus dada saat berhadapan dengan isu regenerasi. Menurut penuturan Isnawati, minat generasi muda setempat untuk menekuni kriya tenun tradisional masih relatif minim.
“Saat ini, pengrajin yang benar-benar aktif bekerja menetap baru ada sekitar tiga orang. Pekerjaan menenun butuh kesabaran dan ketelitian tinggi, sehingga belum banyak anak muda yang tertarik untuk menjadikannya sebagai profesi utama,” akunya terus terang.
Kondisi ini menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan bersama oleh Isnawati dan para pemangku kepentingan di Kabupaten Lingga. Bagi Isnawati pribadi, Rumah Tenun Lingga bukan sekadar tempat mengais rezeki atau pabrik pembuat kain, melainkan benteng pertahanan terakhir dalam menjaga identitas warisan budaya Melayu Lingga agar tidak tergerus arus zaman.
Melalui helai-helai benang yang dirangkai pada jemari ATBM bantuan Bank Indonesia, Isnawati dan para pengrajin terus menenun asa. Harapan agar jejak sejarah, rimbun motif sulur daun, dan denting kain telepuk tetap bergema, melintasi batas negara, serta dapat diwariskan dengan rasa bangga kepada generasi mendatang.
Di sisi lain, Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, menilai bahwa UMKM seperti Rumah Tenun Lingga memegang posisi yang sangat strategis dalam menopang struktur perekonomian Kepulauan Riau. Selain berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan jalur perdagangan internasional, Kepri menyimpan gudang potensi ekonomi kreatif yang masih bisa digali lebih dalam.
Rony menyebut sektor industri memang masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi Kepri. Namun, pertumbuhan sektor industri manufaktur besar kerap kali belum sejalan dengan daya serap tenaga kerja yang memadai.
Di sinilah peran penting UMKM masuk. Karakter usahanya yang adaptif dan padat karya dinilai mampu menjadi penyangga utama penyerapan tenaga kerja lokal.
“UMKM tentunya mempunyai daya serap untuk lapangan kerja yang tinggi, adaptif, dan itu bisa memperbaiki tantangan di dalam penyerapan tenaga kerja,” papar Rony.
Oleh karena itu, Rony menegaskan bahwa strategi pengembangan UMKM tidak boleh cuma berfokus pada upaya menambah jumlah pelaku usaha semata. Peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, ketajaman inovasi, hingga perluasan akses pasar menjadi pilar utama agar UMKM sanggup menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar.
Lebih jauh, Rony memandang kekayaan budaya Melayu sebagai modal sosial bernilai tinggi yang bisa disulap menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Warisan budaya berupa kain songket dan tenun bermotif khas Melayu, jika dipadukan dengan sentuhan desain modern yang relevan, bakal menciptakan daya pikat pasar yang luar biasa. Langkah ini diyakini mampu merawat keaslian identitas budaya sekaligus melipatgandakan nilai jual produk di mata konsumen global.
“Begitu banyak nilai-nilai warisan budaya yang ini bisa menjadi potensi untuk nilai tambah, karena industri kreatif itu adalah industri yang menciptakan nilai tambah,” tegasnya.
Pengembangan produk kriya berbasis budaya seperti Tenun Lingga ini juga diyakini mampu menciptakan efek domino (multiplier effect) yang memanjangkan rantai ekonomi daerah. Satu helai kain tenun tak hanya menghidupi sang penenun, tetapi juga melibatkan rantai penjahit, perancang busana, tim pemasaran, hingga jaringan pelaku usaha ritel.
“Memang tidak mudah, tapi kami lihat ada pencapaian-pencapaian yang membuat kita juga yakin bahwa ini adalah salah satu upaya yang perlu terus didorong,” tutup Rony optimistis.(Tengku Bayu)

