OPINI
Oleh: Ketua Umum BPD HIPMI Kepulauan Riau, Louis Loi
Peristiwa pemadaman listrik secara luas (blackout) pada 12 Oktober 2026, persoalan pasokan air bersih, hingga kabut asap yang kita hadapi belakangan ini tentu bukan keadaan yang kita inginkan. Banyak masyarakat terganggu aktivitasnya, pelaku usaha mengalami kesulitan, dan tidak sedikit pihak mulai mempertanyakan kesiapan Batam menghadapi pertumbuhan ekonomi yang semakin besar.
Kita harus jujur mengakui bahwa kejadian ini menjadi catatan serius bagi Batam. Terlebih, Batam sedang membangun reputasi sebagai tujuan investasi internasional dan salah satu pusat pertumbuhan industri digital serta data center di kawasan regional. Tetapi saya percaya, masa depan sebuah kota tidak ditentukan oleh apakah kota itu pernah mengalami krisis, melainkan oleh bagaimana kota tersebut belajar, memperbaiki diri, dan bangkit setelah menghadapinya.
Tidak ada kota besar di dunia yang sepenuhnya terbebas dari gangguan. Yang membedakan kota yang tangguh dengan yang lainnya adalah kesiapan menghadapi risiko, kecepatan merespons, keterbukaan terhadap masalah, dan kesungguhan melakukan perbaikan.
Karena itu, kejadian beberapa hari terakhir semestinya menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk mengevaluasi ketahanan infrastruktur Batam. Kita membutuhkan sistem kelistrikan yang semakin andal, pengelolaan air yang lebih baik, perlindungan lingkungan, serta rencana darurat yang mampu menjaga kegiatan masyarakat dan dunia usaha ketika terjadi gangguan.
Kita juga perlu mengapresiasi seluruh petugas yang telah bekerja keras melakukan pemulihan. Namun, apresiasi tidak berarti meniadakan evaluasi. Justru dari kejadian ini kita harus memastikan ada pembelajaran nyata dan langkah perbaikan yang terukur.
Dorongan dan dukungan HIPMI telah disampaikan langsung kepada Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Tim Integrated Response Centre (IRC), yang diterima oleh Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi, Dendi Gustinandar dan Direktur Diseminasi Informasi dan Hubungan Antar Lembaga, Sthefani Barlian.
Kami ingin koordinasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha bagi Batam yang lebih tangguh dan kompetitif.
Sebagai pengusaha muda, kami memahami bahwa kepercayaan investor tidak dibangun dengan mengatakan bahwa semuanya selalu baik-baik saja. Kepercayaan justru tumbuh ketika kita berani mengakui persoalan, terbuka dalam mencari solusi, dan mampu membuktikan bahwa setiap masalah membuat sistem kita menjadi lebih baik.
HIPMI Kepri mengajak seluruh pelaku usaha, pemerintah, pengelola infrastruktur dan masyarakat untuk menghadapi situasi ini dengan semangat yang sama. Kita boleh kritis, bahkan harus kritis, tetapi kritik hendaknya membawa perbaikan. Dunia usaha juga harus mengambil bagian dalam membangun kesiapan dan ketahanan Batam, bukan hanya menuntut pelayanan yang lebih baik.
Saya percaya Batam memiliki modal besar: lokasi yang strategis, pengalaman panjang sebagai kota industri, sumber daya manusia, dan masyarakat yang terbiasa menghadapi perubahan. Jangan sampai beberapa hari yang sulit membuat kita melupakan puluhan tahun perjuangan membangun Batam.
Sebaliknya, jadikan pengalaman ini sebagai pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi yang besar harus ditopang oleh infrastruktur, pelayanan, dan tata kelola yang sama kuatnya.
Batam tidak ditentukan oleh hari ketika lampunya padam, tetapi oleh apa yang kita benahi setelah lampu kembali menyala. Kita tidak sedang kehilangan masa depan. Kita sedang mendapat pelajaran penting untuk membangunnya dengan lebih baik.(*)

