Di tengah padatnya arus kendaraan dan lalu lalang para pekerja di Kawasan industry Tunas Batam Center, berdiri sebuah tenda sederhana dengan ukuran 2.5 X 2.5 berwarna merah menyala. Tenda itu mungkin tak besar, tapi cukup mencolok. Di kain spanduknya tertulis dengan huruf besar: “Teh Obeng Ahh..!” sebuah nama unik yang mengundang rasa penasaran. Di bawah spanduk itu, Tampak sesosok perempuan berhijab menyambut dengan senyum hangat. Namanya Wiwid, pemilik sekaligus pelayan tunggal dari usaha mikro yang tengah naik daun saat ini.
Di atas gerobaknya, tersusun rapi cup plastik berlogo khas minuman segar ini, terlihat juga dua termos besar berisi teh manis yang sudah menjadi ikon bagi masyarakat Batam, dan yang paling menonjol, terdapat pula barcode QRIS yang tertempel jelas di depan gerobak miliknya. Tak lagi hanya menerima uang tunai, gerai Wiwid kini melayani pembayaran secara digital.
Hari itu, Selasa, 7 Juli 2025. Sinar matahari menyengat aspal jalanan, tapi tak menyurutkan semangat Wiwid menyapa pelanggan yang datang silih berganti. Beberapa dari mereka membayar dengan uang receh, tapi sebagian lainnya cukup mengeluarkan ponsel dan memindai kode QR. Transaksi selesai dalam hitungan detik, membayar dengan mudah, tanpa perlu atau ribet untuk menukar uang.
“Mau bayar pakai QRIS, kak?” ujar Wiwid ramah sambil menunjuk barcode yang terpampang jelas..
Teh Obeng Ahh..! bukan sekadar gerai kaki lima. Ia adalah simbol kecil dari transformasi besar-besaran yang tengah berlangsung di Kepulauan Riau. Di bawah kebijakan nasional dan dukungan Bank Indonesia (BI) serta pemerintah daerah, ribuan UMKM di Kepri kini mengadopsi QRIS bahkan berlaku juga lintas negara. Teknologi ini memungkinkan pelaku UMKM seperti Wiwid menjangkau pasar yang lebih luas tidak hanya pelanggan lokal, tapi juga bisa digunakan oleh wisatawan mancanegara yang kian banyak berkunjung ke Batam
“Sejauh ini sih, belum pernah wisatawan asing beli teh obeng. Tapi kami siap saja, ketika ada yang beli, mereka bisa menggunakan QRIS untuk pembayarannya,” ujar Wiwid.
Menurut Wiwid, digitalisasi ini bukan sekadar soal teknologi, tapi juga soal harapan bagi semua pelaku usaha.
“Dulu buat usaha kaki lima ini saya pikir asal cukup buat makan saja. Tapi sekarang beda, apalagi sekarang, dengan QRIS pembayaran semakin mudah,” ceritanya sambil melayani pembeli yang terus berdatangan.
Harga satu cup teh obeng buatannya mulai dari Rp3.000 hingga Rp5.000, tapi setiap transaksi adalah langkah kecil menuju kemajuan. “QRIS itu sangat memudahkan. Kita sekarang nggak harus sedia uang kembalian. Kadang pembeli datang, minum cepat-cepat, bayar digital, selesai. Aman, bersih, dan praktis,” ungkap Wiwid.
UMKM seperti Wiwid menjadi ujung tombak dari visi besar ini. Gerai Teh Obeng Ahh..! miliknya yang kini sudah tersebar dibeberapa tempat juga menerapkan pembayaran digital. Dengan memanfaatkan teknologi saat ini, Wiwid tak perlu membuka cabang di luar negeri. Yang ia perlukan hanyalah stabilitas internet dan barcode QRIS yang aktif.
“Walaupun tidak terlalu banyak pembeli menggunakan QRIS, setidaknya membantu kami. Misalnya, ada yang membeli 10 cup harganya Rp5.000 jadinya Rp50.000, biasanya pembeli membayarnya pakai QRIS,” ujarnya.
Tak hanya kemudahan transaksi, digitalisasi ini juga membuka peluang Wiwid dan pelaku UMKM lain untuk masuk ke dalam ekosistem ekonomi digital yang lebih luas. Lewat pelatihan atau seminar yang pernah ia ikuti, Wiwid kini belajar cara mempromosikan dagangannya lewat media sosial, menerima pesanan daring, hingga menjalin kerja sama dengan pihak lain, seperti dengan BEM Kampus STIT Internasional Muhammadiyah Batam.
“Sekarang banyak orang tahu teh obeng saya dari Instagram dan TikTok. Ada yang order untuk acara komunitas, kampus, kantor, bahkan ulang tahun,” ucapnya sambil tertawa.
Meski teknologi memegang peranan penting, Wiwid tahu bahwa kunci utama tetap ada pada pelayanan dan rasa. Setiap cangkir teh obeng yang ia sajikan mengandung dedikasi dan semangat seorang perempuan yang ingin membangun masa depan lewat bisnis kecilnya.
“Buat saya, ini bukan sekadar usaha,” katanya mantap. “Tapi ini cara agar Batam dikenal. Lewat teh, lewat senyum, dan sekarang lewat QRIS,” ungkapnya sembari senyum-senyum tipis.
Cerita Wiwid hanyalah satu dari ribuan cerita lain di Kepri. Tapi di balik cup teh obengnya, ada pelajaran penting tentang keberanian, inovasi, dan tekad untuk bangkit dalam era digital. Dan dari sudut jalan yang sederhana di Batam Center, Wiwid membuktikan bahwa UMKM di Kepri khususnya Kota Batam, tak hanya bisa bertahan, tapi juga bisa go global.
Dengan sistem yang semakin mendukung dan semangat pelaku usaha yang terus menyala, mimpi besar itu kini tak lagi terasa jauh. Mungkin, satu cup teh obeng bisa menjadi awal dari langkah besar menuju masa depan.

