Friday, October 30, 2026
HomeBatamRayakan Ulang Tahun ke-50, Iman Sutiawan dapat Kado Puisi dari Sahabat

Rayakan Ulang Tahun ke-50, Iman Sutiawan dapat Kado Puisi dari Sahabat

BATAM (BR) – Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Iman Sutiawan, memperingati hari ulang tahunnya yang ke-50 dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan di kediamannya, kawasan Patam Lestari, Sekupang, Kamis (6/11).

Meski dirayakan secara sederhana, momen tersebut sarat makna dan keakraban. Hadir dalam kesempatan itu keluarga besar, sahabat dekat, sejumlah anggota DPRD Kepri dan DPRD Kota Batam, Kepala Kantor Kemenag Kota Batam, tokoh masyarakat, hingga para santri yang turut mendoakan kesehatan serta keberkahan bagi Iman.

Suasana haru menyelimuti acara ketika Iman membacakan puisi berjudul “Doa Sederhana dari Seberang Samudera”, karya sastrawan Kepri sekaligus Komisioner KPID Kepri, Ramon Damora. Dengan suara tenang dan penghayatan mendalam, Iman menuturkan setiap bait puisi yang menggambarkan perjalanan seorang anak pulau yang ditempa laut dan keteguhan hati.

“Puisi ini menjadi kado istimewa bagi saya. Sebuah hadiah dari sahabat yang memahami perjalanan batin anak pulau,” ungkap Iman seusai membacakan puisi tersebut.

Dalam puisi itu, Ramon menulis refleksi mendalam tentang makna laut dan kehidupan kepulauan. Salah satu bait yang paling menyentuh berbunyi: “Pulau adalah darahku. Dan kami mengerti: darah itu adalah laut yang tak pernah selesai mengajarkan makna pulang.” Kalimat itu terasa begitu lekat dengan kisah hidup Iman Sutiawan, yang lahir dan besar di Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam.

“Sebagai anak pulau, saya membaca puisi ini dengan hati. Saya tahu betul bagaimana perjuangan masyarakat hinterland yang hidup berdampingan dengan laut,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Iman Sutiawan bukan hanya dikenal sebagai politisi, tetapi juga sebagai sosok yang menjunjung nilai keikhlasan dan pengabdian. Kini, ia menjabat sebagai Ketua DPRD Kepri periode 2024–2029 sekaligus Ketua DPD Partai Gerindra Kepri. Sebelumnya, ia telah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Batam selama dua periode berturut-turut (2014–2019 dan 2019–2020).

Perjalanan panjang dari pulau kecil hingga memimpin parlemen provinsi menjadi cerminan semangat perjuangan yang tak pernah padam. “Bagi saya, laut bukan lagi batas bagi manusia. Justru dari laut, saya belajar tentang keteguhan, kesabaran, dan arti pulang,” ujar Iman penuh makna.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, ramah tamah, serta hiburan sederhana. Tak ada gemerlap pesta atau kemewahan, hanya ketulusan dan rasa syukur yang mengalir dalam setiap senyum tamu undangan.

Seperti laut yang selalu tenang namun menyimpan kedalaman, demikianlah sosok Iman Sutiawan — pemimpin yang tumbuh dari akar kepulauan, menjaga nilai kesederhanaan, dan terus berlayar membawa harapan masyarakat Kepri menuju masa depan yang lebih baik.

Berikut puisinya: 

Doa dari Seberang Samudera

~ Kepada Bang Iman Sutiawan

Seseorang datang dari gelombang paling jauh — sehelai suara lembut yang tumbuh dari rahim pulau. 

“Pulau adalah darahku,” katanya.

Dan kami mengerti: darah itu adalah laut yang tak pernah selesai mengajarkan makna pulang.

Ia berjalan dari kampung tempat angin mengaji, dari senyum asin nelayan yang menjemur harap, di atas papan-papan yang dikelupas matahari.

Ia tahu bagaimana perahu menjadi doa,

bagaimana jarak adalah nasib yang menua dalam kesunyian. Ia tahu arti sebuah penantian pada ombak

yang datang tanpa jaminan.

Maka ketika ia berdiri di hadapan negeri ini, tak ada gemuruh tepuk tangan yang ia kejar, karena ia sendiri adalah tepukan lembut takdir pada bahu dunia yang letih, tak ada mahkota yang ia cari. 

Ia hanya ingin laut tidak lagi menjadi batas bagi manusia.

Ia datang dengan ketulusan yang seperti sungai: mengalir tanpa peta,

namun sampai pada semua rumah-rumah yang menaruh harapan.

Lalu dia bilang: kita bukan superman…

Duhai, betapa merendahnya cahaya ketika bersinar di tangan yang tenang.

Sebab yang kau bawa bukanlah keajaiban, tapi, agaknya, kesabaran:

yang lebih kuat dari gelombang, yang lebih dalam dari karang, lebih setia dari mercusuar.

Duhai anak pulau, kau telah menjadi jembatan bagi mereka yang selama ini berbicara kepada laut, tetapi tak pernah didengar kota. Usia adalah gelombang yang datang silih berganti. Namun hari ini, 6 November 2025, 15 Jumadil Awal 1447 Hijriah, laut tampak tenang sekali, angin seperti sedang membaca sebuah nama yang takkan pernah berhenti memberi arti.

Kami belum layak memberi selamat kepadamu, karena engkau telah lebih dulu menebar selamat bagi banyak hidup. Kami hanya menitipkan satu doa yang sederhana dari seberang samudera: semoga langkahmu selalu kembali kepada cinta yang semula jadi itu, cinta yang bergemuruh ketika engkau berkata: “saya melakukan semua ini dengan hati…”

Kepada engkau yang lahir di sebuah pulau yang tidak muncul pada ramalan cuaca televisi. Kepada engkau yang tumbuh di tempat di mana angin tahu banyak rahasia, dan orang belajar menghitung jarak dari ombak, bukan dari kalender.

Kepada engkau yang tidak tergesa-gesa menjadi siapa-siapa, sebab di pulau semua orang tahu bahwa bahkan kelapa jatuh pun punya waktunya sendiri, dengarlah; kami titipkan perahu, sampan, jaring, mimpi, duka nestapa…

Dirgahayu, Bang Iman. Kepadamu kami akan selalu belajar bagaimana beriman kepada cara pulau bersujud dan mencintai: senyap, setia, tapi tidak meminta disaksikan. 

Batam, 6 November 2025

RELATED ARTICLES
spot_img

BATAM