LINGGA (BR) – Empat jam perjalanan menjadi awal dari sebuah cerita. Hari ini, kami rombongan jurnalis Batam bersama Bank Indonesia (BI) menapaki perjalanan menuju Daik, Kabupaten Lingga, dalam rangka Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026, Senin, 10 Agustus 2026.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, rombongan akhirnya tiba di pelabuhan Sungai Tenam. Udara terasa berbeda.
Destinasi pertama yang kami tuju adalah Tugu Khatulistiwa. Di tempat ini, perjalanan kami seolah membawa makna yang berbeda.
Tugu tersebut menjadi penanda bahwa kawasan ini berada pada lintasan garis khatulistiwa garis imajiner yang membelah bumi menjadi belahan utara dan selatan.

Yang menarik, Kabupaten Lingga menjadi satu-satunya wilayah di Provinsi Kepulauan Riau yang dilintasi garis Khatulistiwa. Sebuah fakta geografis yang membuat perjalanan ini tidak hanya menghadirkan pemandangan, tetapi juga pengetahuan dan pengalaman yang sulit dilupakan.
Berdiri di dekat penanda Khatulistiwa, ada perasaan tersendiri. Di tengah bentang alam Lingga yang masih asri, kami seakan diingatkan bahwa daerah ini menyimpan kekayaan yang bukan hanya berupa budaya Melayu dan sejarah, tetapi juga keunikan geografis yang menjadi bagian dari identitas Kepulauan Riau.
Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju destinasi berikutnya, Air Terjun Resun.
Jika Tugu Khatulistiwa membawa kami pada cerita tentang posisi geografis bumi, maka Air Terjun Resun membawa kami lebih dekat dengan wajah alam Lingga.
Derasnya air yang mengalir di antara bebatuan, pepohonan yang menghijau, serta suasana alam yang masih terasa begitu alami menjadi sajian yang menyegarkan setelah perjalanan panjang.(*)

